Seringkali orang menyangka sifat PEMALU sama saja dengan sifat orang minder. Padahal tidak dengan demikian. Anak pemalu jika mendapatkan lingkungan dan pola asuh yang tidak tepat, akan berubah menjadi anak minder. Nantinya, lingkungan itu akan merongrong dirinya.
Contohnya, anak seringkali mendengar perkataan orangtuanya "Aduh, diajarkan berkali-kali kok nggak ngert-ngerti sih!". Perkataan ini akan mempengaruhi penilaian diri anak kepada dirinya sendiri menjadi negatif. Akibatnya anak akan merasa dirinya benar-benar bodoh, selanjutnya ia akan menilai harga dirinya rendah. Alhasil, rasa percaya dirinya hancur dan rasa minder mulai muncul.
Tentunya proses menjadi anak mandiri tidak berlangsung Instan. Melainkan sudah dimulai secara perlahan sejak usia sebelumnya. Anak minder cirinya mulai berpikir buruk dan menilai rendah tentang dirinya. Ada kecenderungan anak menganggap bodoh, tidak berguna dan label negatif lainnya. Apabila dihadapkan pada suatu masalah atau tantangan, dia akan menganggapnya sebagai sumber utama kecemasan dan frustasi, karena dia mengalami kesulitan dalam menemukan solusi atau penyelesaian dari suatu permasalahan tersebut.
Untuk menangani anak minder, guru dan orang tua harus melatih mengembalikan sekaligus mengembangkan kepercayaan diri anak. Ketahuilah,,,,, percaya diri bukanlah bawaan, melainkan nilai yang tumbuh bertahun-tahun sejalan dengan pengalaman hidup, hingga anak kelak akan memandang positif dan cenderung memiliki harapan realistis terhadap dirinya. Percaya diri merupakan kumpulan kepercayaan atau perasaan yang dimiliki anak tentang dirinya yang mempengaruhi motivasi, perilaku, sikap dan penyesuaian emosinya. Jadi, agar anak percaya diri diperlukan pola asuh yang baik serta latihan yang konsisten dan berkesinambungan. Beri pujian terhadap prilaku positif maupun perkembangan prilaku atau keterampilan siswa. Hargai setiap usaha dan penyelesaian masalah yang telah siswa lakukan. JANGAN hanya melihat hasil, tapi lihat juga bagaimana proses siswa mendapatkan hal itu. Berikan toleransi jika siswa mengalami kesalahan kecil yang ia lakukan. Biarkan ia mencoba kembali, hingga akhirnya membentuk ide berdasarkan kemampuan diri sendiri.
Perbanyak kata-kata positif dan sedapat mungkin hindari kata-kata negatif, apalagi label yang dapat menjatuhkan harga diri anak tersebut. Jangan sekali-kali merendahkan kemampuan anak. Orang tua dan guru harus berhati-hati dengan perbuatan dan perkataannya, karena siswa akan mengingat, meniru dan juga bercermin pada diri orang tua dan gurunya. Guru dan orang tua juga sebaiknya melakukan interaksi dan komunikasi yang baik pada anak atau siswanya. Pola asuh yang melibatkan orang tua dan guru merupakan kunci yang dapat membantu anak membangun persepsi diri yang positif. Melakukan sesuatu yang berarti dengan perasaan dicintai. Kedua aspek inilah yang harus dihadirkan pada diri anak agar tumbuh rasa percaya diri.
Salam Dahsyat,
Erwin Syahputra, M.Pd












