Guru di abad informasi ini memiliki tugas berat
untuk merangsang kembali minat siswa terhadap pesan-pesan pembelajaran yang
dilakukan di kelas dengan membuat peristiwa pembelajaran di kelas semenarik
kemasan pembelajaran yang dijumpai di luar kelas. Tugas berat ini tidak mudah
dilaksanakan sehingga perlu ada reorientasi pendidikan guru. Reorientasi ini
dilakukan karena perubahan paradigma pembelajaran dari paradigma behavioristik
kepada paradigma humanistik konstruktivis. Dengan demikian, orientasi pendidikan
guru kini dan ke depan tidak hanya menyiapkan para guru dengan kemampuan
mengajar yang baik, tetapi juga kemampuan merancang dan mengelola pembelajaran.
Itu berarti penguasaan terhadap bidang ajaran (Subject
Matter) bukan lagi menjadi tekanan utama. Sebaliknya, bagaimana
mengelola
kelas dan mengemas bahan ajar secara menarik mungkin, sehingga bisa
merangsang
minat belajar siswa. Para guru juga harus menguasai psikologi anak dan
cara
mempengaruhi mereka untuk bisa belajar. Mengetahui tahapan perkembangan
anak
saja tidak cukup, lebih dari itu bagaimana dengan pengetahuan dapat
menjadi
landasan untuk mengemas peristiwa belajar yang menarik bagi mereka.
Dengan demikian, guru harus mengembangkan model pembelajaran yang
berpusat pada siswa (student centered). Dalam hal ini, ada beberapa pengajuan premis, di antaranya adalah:
- Siswa adalah subjek yang unik, dan keunikan ini harus dipertimbangkan dalam melibatkan mereka untuk mengambil tanggung jawab atas kegiatan belajarnya.
- Perbedaan unik siswa mencakup keadaan emosional, pikiran, perasaan, kecakapan belajar, gaya belajar, kemampuan, bakat, dan atribut-atribut non-akademis.
- Belajar merupakan suatu proses konstruktif, dan paling baik dilakukan jika apa yang dipelajari relevan dan bermakna begi siswa sesuai pengetahuan dan pengalaman sebelumnya.
- Belajar paling baik terjadi dalam suatu lingkungan yang positif dimana ada interaksi dan hubungan interpersonal yang positif dan menyenangkan sehingga siswa merasa dihargai dan diakui.
- Belajar pada dasarnya adalah proses alamiah, maka secara alamiah memiliki rasa ingin tahu dan berminat untuk mempelajari dan menguasai dunianya.
Demokratisasi pembelajaran menuntut guru yang:
(1) Sabar, peka dan toleran terhadap kemampuan belajar siswa yang berbeda-beda. (2) Menggunakan aneka pendekatan pembelajaran yang adaptif terhadap perbedaan individual siswa. (3) Berorientasi pada tugas, terfokus, dan menyajikan pelajaran dengan cara menarik dan melibatkan. (4) Menggunakan humor dan pujian. (5) Menyajikan informasi secara jelas dan memastikan siswa telah memahami apa yang telah dipelajari.
Salam Dahsyat,
Erwin Syahputra, M.Pd















