ACARA BEDAH BUKU CHAIRUL TANJUNG SI ANAK SINGKONG

Guru-guru SMA Unggulan CT Foundation Berfoto Bersama Bapak Chairul Tanjung dan Ibu Anita Chairul Tanjung.

HUT CT ARSA FOUNDATION KE-11 TAHUN

Photo Bersama Tim Manajemen SMAU CT Foundation Bersama Perwakilan Yayasan CT Arsa Foundation di Jakarta.

Pelatihan Instruktur Nasional (IN) Guru Pembelajar Tahun 2016

Photo Bersama Tim IN Guru Pembelajar Tingkat SMA Bidang Studi Matematika Tahun 2016 Saat Selesai Pelatihan.

DISKUSI BERSAMA SISWA SMAU CT FOUNDATION DI LUAR KBM

Erwin Dahsyat Sedang Diskusi Bersama Siswa Tentang Perkembangan Dunia Pendidikan.

TAMASYA KE SAMOSIR DANAU TOBA SUMUT

Semua Pegawai, Guru, dan Tim Manajemen Mengikuti Pelatihan Sambil Bertamasya di Samosir Danau Toba SUMUT Tahun 2012.

Sunday, March 24, 2013

MENGAJAR DENGAN GAYA BELAJAR SISWA


Gaya Belajar setiap siswa itu berbeda-beda. Memahami gaya belajar setiap siswa adalah hal yang sangat terpenting. Karena setelah mengetahui gaya belajar siswa dan kecenderungan-kecenderungan yang paling menonjol yang dimilikinya, maka pada saat itu sebagai guru kita dapat menyesuaikan dengan gaya belajar mereka. Bagaimana kita dapat menyesuaikan diri dengan gaya belajar mereka masing-masing? Hal inilah yang saya dapat saya sampaikan dalam kesempatan ini, di  antaranya:
Untuk Pembelajar Visual, dimana siswa lebih banyak menyerap informasi melalui mata, ha-hal yang bisa kita lakukan untuk memaksimalkan kemampuan belajar mereka adalah sebagai berikut: 
  1. Biarkan mereka duduk di bangku paling depan, sehingga mereka bisa langsung melihat apa yang dituliskan atau digambarkan guru di papan tulis.
  2. Selain tulisan, buatlah lebih banyak bagan-bagan, diagram, flow-chart menjelaskan sesuatu.
  3. Putarkan film. Minta mereka untuk menuliskan poin-poin penting yang harus dihapalkan.
  4. Gunakan berbagai ilustrasi dan gambar.
  5. Tulis ulang apa yang ada di papan tulis.
  6. Gunakan warna-warni yang berbeda pada tulisan.
Untuk Pembelajar Auditory, dimana siswa lebih banyak menyerap informasi melalui pendengaran, ha-hal yang bisa kita lakukan untuk memaksimalkan kemampuan belajar mereka adalah sebagai berikut: 
  1. Gunakan audio dalam pembelajaran (musik, radio, dll)
  2. Saat belajar, biarkan mereka membaca dengan nyaring dan suara keras.
  3. Seringlah memberi pertanyaan kepada mereka.
  4. Membuat diskusi kelas.
  5. Menggunakan rekaman.
  6. Biarkan mereka menjelaskan dengan kata-kata.
  7. Biarkan mereka menuliskan apa yang mereka pahami tentang satu mata pelajaran.
  8. Belajar berkelompok.
Untuk Pembelajar Kinestetic, dimana siswa lebih banyak menyerap informasi melalui gerakan fisik. ha-hal yang bisa kita lakukan untuk memaksimalkan kemampuan belajar mereka adalah sebagai berikut:
  1. Perbanyak praktek lapangan (field trip).
  2. Melakukan demonstrasi atau pertunjukan langsung terhadap suatu proses.
  3. Membuat model atau contoh-contoh.
  4. Belajar tidak harus duduk secara formal, bisa dilakukan dengan duduk dalam posisi yang nyaman, walaupun tidak biasa dilakukan oleh murid-murid yang lain.
  5. Perbanyak praktek di laboratorium.
  6. Boleh menghapal sesuatu sambil bergerak, berjalan atau mondar-mandir misalnya.
  7. Perbanyak simulasi dan role playing.
  8. Biarkan murid berdiri saat menjelaskan sesuatu.
Dalam kelas, biasanya siswa terdiri dari ketiga kelompok belajar di atas. Karena itulah tidak bisa seorang guru menerapkan metode pembelajaran hanya dengan satu metode, apalagi jika metode yang hanya dimiliki oleh seorang guru tersebut hanya metode ceramah dari awal sampai akhir. Akibatnya yang akan terjadi adalah akan timbul rasa kebosanan siswa untuk terus mengikuti proses pembelajaran dan pada akhirnya akan timbul titik jenuh siswa yang mengakibatkan rendahnya hasil belajar siswa.
Dengan demikian, guru harus lebih kreatif dan mempunyai inovasi yang sangat tinggi untuk menerapkan metode-metode pembelajaran yang sangat cocok dengan keragaman gaya belajar siswa. Terapkan metode yang dapat melibatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dan menyenangkan bagi siswa yang dapat menimbulkan daya tarik siswa untuk terus belajar dan bahkan dapat menimbulkan rasa ingin tahu siswa terhadap permasalahan yang diberikan. Misalnya, diskusi kelompok (model pembelajaran kooperatif tipe STAD, jigsaw, dan think pair share), metode inkuiri (penemuan), metode permainan (role playing), Pendekatan Matematika Realistik (PMR), pembelajaran berbasis otak (brain based learning), pembelajaran berbasis masalah (problem based learning), atau metode/strategi/pendekatan lainnya.
Namun demikian, masih terdapat sebagian guru yang pada proses pembelajaran hanya menggunakan metode ceramah dan bahkan jika siswa tidak memperhatikannya, maka guru tersebut menggunakan kekuasaan mereka sebagai guru dengan melakukan bentakan yang keras disertai ancaman nilai dan kalau siswa tidak mendengarkan maka mereka akan mendapat hukuman. Inilah metode yang sangat tidak pantas diterapkan dalam KBM. Karena metode pembelajaran ini akan menjadikan sesuatu yang mengerikan dan membuat trauma bagi siswa. Situasi semacam ini akan melahirkan "kalah-kalah", dimana guru kalah karena walaupun sudah bekerja keras tetapi tidak bisa menikmati pekerjaanya, sementara bagi siswa juga kalah karena proses pembelajaran tidak lagi menjadi proses yang menyenangkan akan tetapi akan membuat trauma dan kesedihan untuk belajar.

Dengan demikian, kreativitas dan kemampuan guru untuk memahami gaya belajar siswa dalam mengelola pembelajaransangat penting agar suasana di dalam kelas bisa dibangun dengan kondusif dan menyenangkan untuk belajar, dan pada akhirnya siswa akan merasa enjoy di sekolah tersebut.
Salam Dahsyat,

Erwin Syahputra, M.Pd