By : Erwin Syahputra, M.Pd
Pada dasarnya belajar merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Sejak lahir manusia telah melakukan kegiatan belajar untuk memenuhi kebutuhan mengembangkan dirinya. Oleh karena itu secara tidak langsung manusia telah melakukan belajar sebagai suatu kegiatan. Menurut teori belajar Behaviorisme bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang terjadi berdasarkan paradigma Stimulus-Respon (SR), yaitu suatu proses memberikan respon tertentu kepada stimulus yang datang dari luar (dalam Hamid, 2009:8). Sejalan dengan teori belajar tersebut, maka belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Belajar disini menitikberatkan pada interaksi antara individu dengan lingkungan. Di dalam interaksi tersebut akan terjadi serangkaian pengalaman-pengalaman belajar. Namun pada dasarnya belajar merupakan proses yang menghendaki adanya perubahan perilaku akibat interaksi individu dengan lingkungan.
Sedangkan pembelajaran sebagai “upaya orang yang tujuannya adalah
membantu orang belajar” (dalam Ismail, 2006:1.13). Dan secara lebih
terinci Gagne mendefinisikan pembelajaran sebagai “seperangkat acara
peristiwa eksternal yang dirancang untuk mendukung terjadinya beberapa
proses belajar yang sifatnya internal” (dalam Ismail, 2006:1.13). Adapun
salah satu yang mendukung proses pembelajaran agar dapat lebih terarah
dan terciptanya pembelajaran yang “student centered” adalah
metode/model/pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh pengajar (guru)
dalam menginformasikan ilmunya kepada peserta didik. Pembelajaran yang
konvensional (metode ceramah) adalah pembelajaran yang kebanyakan dapat
menimbulkan kebosanan khususnya pada pembelajaran MATEMATIKA.
Sebagai guru matematika, berusahalah menggunakan metode pembelajaran
yang dapat mengarahkan siswa untuk lebih aktif dalam belajar, jadikanlah
para peserta didik sebagai SUBJEK belajar bukan OBJEK. Banyak metode
pembelajaran yang dapat diterapkan, misalnya Metode Inkuiri bersifat
Open Ended, Pembelajaran Problem Based Learning, Pembelajaran TUTOR
sebaya, dan Metode Brain Based Learning. Adapun peranan utama guru dalam menciptakan kondisi pembelajaran yang
“studen centered” menurut Gulo (2002:86) adalah sebagai berikut:
- Motivator, yang memberikan rangsangan supaya siswa aktif dan gairah berpikir.
- Fasilitator, yang menunjukkan jalan keluar jika ada hambatan dalam proses berpikir siswa.
- Penanya, untuk menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka perbuat dan memberikan keyakinan pada diri sendiri.
- Administrator, yang bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan di dalam kelas.
- Pengarah, yang memimpin arus kegiatan berpikir siswa pada tujuan yang diharapkan.
- Manajer, yang mengelola sumber belajar, waktu, dan organisasi kelas.
- Rewarder, yang memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai dalam rangka peningkatan semangat heuristik pada siswa.
Diharapkan dengan menggunakan metode pembelajaran yang lebih
mengedepankan siswa sebagai subjek belajar maka dapat meningkatkan
kualitas pembelajaran dan bahkan hasil belajar siswa untuk mendapatkan
hasil yang optimal. Amin…







0 comments:
Post a Comment
Berkomentarlah dengan sopan